Resensi Buku Menarik LPM Canopy
Sejarah Perjalanan Pahlawan Indonesia Tengah
Dalam hidup seorang manusia pasti akan mengalami masa-masa pencarian identitas. Dimana identitas tersebut menunjukkan jati diri seseorang, sehingga dalam hidup ini memang dibutuhkan pencarian identitas diri tersebut. Untuk penemuan identitas itu seseorang tak hanya melewati satu permasalahan saja, namun banyak lika-liku hidup yang akan dijalaninya untuk menemukan jati dirinya.
Buku ini menceritakan tokoh Tjilik Riwut, seorang tokoh asal Kalimantan Tengah yang dikenal dengan jasa telah menyatukan dan membangun Kalimantan Tengah serta menjadikannya bagian dari Negara Indonesia. Tjilik Riwut dilahirkan di Desa Kasongan sebuah Desa ditengah hutan dan transportasi kesana adalah dengan perahu untuk menyusuri sungai Katingan. Pada tahun 1930-an, saat usia Tjilik Riwut menginjak 12 tahun dan selepas menempuh SR (Sekolah Rakyat) dia pergi ke Bukit Batu. Konon Tjilik Riwut tiba-tiba meninggalkan teman sebayanya untuk melakukan balampah, dari religi masyarakat setempat, balampah adalah sebuah medium komunikasi antara dirinya dengan sesuatu yang transenden. Balampah ke Bukit Batu itu dilakukan secara terus-menerus, dan di bukit inilah akhirnya Tjilik Riwut mendapat wangsit untuk pergi ke Jawa.
Pada tahun 1936 saat Tjilik Riwut berusia 18 tahun ia sudah sampai di Jawa, Tjilik Riwut dikirim Zending untuk bersekolah perawat di Banyu Asih, Purwakarta, Jawa Barat. Sekolah perawat biasa dirasa kurang cukup oleh Tjilik Riwut, Tjilik Riwut muda akhirnya memutuskan untuk membantu mengantar Koran dari rumah ke rumah. Dan disanalah Tjilik Riwut mulai bersentuhan dengan dunia jurnalistik, bahkan sempat belajar jurnalistik dari Sanusi Pane dan M. Tabrani.
Dalam buku setebal 248 halaman ini penulis bermaksud untuk menceritakan kehidupan Tjilik Riwut mulai dari kehidupan masa kecilnya hingga ia bisa diangkat menjadi pahlawan Nasional. Dengan sudut pandang sebagai pencerita penulis memaparkan keadaan kehidupan ataupun juga keadaan politik nasional pada masa tersebut. Digambarkan ketika Proklamasi Kemerdekaan, Kalimantan, termasuk Desa Kasongan tempat Tjilik Riwut lahir dan tinggal tidak ada ‘gema’ sama sekali. Terjadi sebuh agresi militer oleh Gubernur Borneo, Ir Mohammad Noor di Yogyakarta untuk melakukan ekspedisi pembebasan Kalimantan. Tjilik Riwut yang bertempat tinggal Yogyakarta, tergabung dalam agresi dan menjadi pimpinan pasukan M.N. 1001.
Setelah Proklamasi kemerdekaan RI, terbentuklah Kalimantan Tengah, dan seiring berjalan deklarasi terbentuknya Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut dan tokoh masyarakat memikirkan ibukota provinsi itu. Dan akhirnya terpilih Desa Pahandut yang kemudian diganti menjadi Palangka Raya, situasi Desa yang sunyi dan jauh dari keramaian menjadikan keraguan oleh masyarakat. Namun justru disini Tjilik Riwut menekankan bahwa Palangka Raya dibangun tanpa jejak kolonial, kemudian semangat ini mendapat dukungan oleh Presiden Soekarno untuk dilakukan pembangunan dan peresmian. Dengan motto “ Tiada rotan, akar pun berguna”, Tjilik Riwut tak henti-hentinya mengajak masyarakat untuk ikut membangun Palangka Raya. Lebih dari itu, ia tak hanya mengakat masyarakat mejadi pegawai namun juga menghubungi pelajar dan mahasiswa yang telah menyelesaikan massa study-nya (belajar, red) untuk membangun daerah mereka. Pasca kemerdekaan RI, Tjilik Riwut tidak menghentikan kegiatannya menulis, dia terus menulis meski menyandang seabrek jabatan pemerintahan. Baginya, menulis adalah upaya untuk menggelobalkan adat Dayak dan melokalkan Indonesia ke dalam masyarakat Dayak, sehingga dia banyak menulis buku-buku yang didorong oleh keprihatinan dirinya atas nasib masyarakat Dayak.
Perkenalkan usaha anda mulai dari dini agar lebih dikenal oleh masyarakat,untuk informasi pemasangan.