CANOPY on_line

Halaman Utama | kegiatan | usaha
Liputan Utama | Liputan Khusus | Agrokomplek | Teropong | Wawasan | Budaya | Lingkungan | Jelajah | Opini | Jejak |
Aktual | Gazebo | Foto Kampus | Sorotan | Agrinfo | Opini | Ekspresi |
Topik Bulan ini | Karya Canopier's |
IOM | Hari Kartini | Hari Buruh | Hari Pendidikan |
Proposal Majalah | Proposal Buletin |
Daftar Buku Perpustakaan CANOPY |
Polling Majalah | Polling Buletin | Polling Mading |

MAJALAH CANOPY

Header image
canopy 47-48

Sekilas Tentang Majalah... CANOPY

Majalah CANOPY adalah salah satu media cetak yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa CANOPY, majalah CANOPY sudah menerbitkan 51 edisi dan terbit setiap 6 bulan sekali. Isu yang ditawarkan dimajalah ini membahas tentang isu tentang pertanian skala nasional, baik berupa sistem, kebijakan pemerintah tentang pertanian, maupun hal-hal yang terbaru dibidang pertanian pula. Tak ketinggalan berita-berita seputar kampus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya kami sajikan dalam majalah ini.

Majalah Canopy 52

Petani dirugikan oleh harga jual sayur

 

Keadaan petani sayur di Indonesia dapat dibilang tidak menguntungkan. Pendapatan petani sayur tidak tentu. Petani sayur berbeda dengan petani padi/jagung yang harga dasarnya ditetapkan pemerintah, karena beras merupakan komoditas politik yang bisa menentukan jatuh bagunnya pemerintahan. Petani gurem dan petani dengan lahan sempit memilih bertanam kubis atau sawi, karena harga benih dan biaya perawatannya tidak semahal kentang atau wortel.

Sedangkan petani sayur sering diresahkan dengan harga sayur yang fluktuatif. Sehingga banyak petani yang rugi (gulung tikar) jika harga jual sayur lebih rendah dari biaya produksi. Untuk harga kubis kamari petani daerah pujon mengungkapkan, “harga kubis untuk taun kemaren 200 rupiah, dan daripada rugi terpaksa kubisnya saya babat”. Kalau panen raya harga sayur jatuh karena jumlah sayur melimpah di pasaran. Harga yang fluktuatif memang dilihat dari kuantitatif sayur di pasar. Kalau jumlah sayur di pasar sedikit sedangkan permintaan banyak maka harga sayur akan mahal

 

Liputan Utama CANOPY 51Menguak sejarah pertanahan Indonesia

Bumi, air dan kekayaan alam termasuk tanah dikuasai negara untuk digunakan demi kemakmuran hidup rakyatnya. Kenyataan yang terjadi justru penguasaan tanah oleh negara digunakan untuk kepentingan para pemilik modal. Penggunaan tanah Indonesia sebagian besar dikuasai oleh swasta dan negara. Sementara masyarakat sebagai individu tak bermodal tidak mampu memiliki tanah dalam luasan yang besar.

Lihat lebih lanjut.....

Liputan Utama CANOPY 52Petani Dirugikan Harga Jual Sayur

Keadaan petani sayur di Indonesia dapat dibilang tidak menguntungkan. Pendapatan petani sayur tidak tentu. Petani sayur berbeda dengan petani padi/jagung yang harga dasarnya ditetapkan pemerintah, karena beras merupakan komoditas politik yang bisa menentukan jatuh bagunnya pemerintahan. Petani gurem dan petani dengan lahan sempit memilih bertanam kubis atau sawi, karena harga benih dan biaya perawatannya tidak semahal kentang atau wortel.

Lihat selanjutnya....

Liputan Khusus Canopy 51 Haruskah Kliah di Brawijaya?

Cukup mencengangkan apabila kita melihat biaya pendidikan saat ini. Lihat saja biaya pendidikan S-1 Universitas Brawijaya dengan biaya masuk awal  4,8 -19,9 juta rupiah sesuai fakultasnya. Biaya tersebut telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari jumlah yang dibayarkan mahasiswa baru tahun 2006 sebelumnya, contohnya saja fakultas pertanian yang tahun lalu 3 jutaan sekarang menjadi 6,6-6,9 juta. Pendidikan mahal, itulah yang terpikirkan oleh sebagian besar masyarakat saat ini selain harga minyak goreng dan susu yang juga melambung. Dimana fungsi perguruan tinggi yang dapat memberikan penyelesaian terhadap masalah di masyarakat?  Bila pada kenyataannya menambah beban dari biaya pendidikan yang tidak terjangkau.

Lihat selanjutnya...

Liputan Khusus Canopy 52Jawaban Atas Nama Keadilan

SPP dengan kepanjangan sumbangan pembangunan pendidikan merupakan sumbangan yang mengatas namakan demi membangun pendidikan, sumbang dalam bentuk nominal. Mengatas namakan sumbangan berarti merujuk sumbangan suka rela atau membayar semampu pelaku yang dikenai SPP. Namun yang terjadi, keberadaan SPP menjadi parameter kaya dan miskin masyarkat yang ingin menempuh dunia pendidikan. Dinilai kebutuhan pendidikan semakin mahal, maka sumbangan pembangunan pendidikan dirasa poerlu ikut ditingkatkan demi menutupi kabutuhan yang tinggi.

Lihat selanjutnya....

 

 

About Us | Site Map | Privacy Policy | Contact Us | ©2006 LPM CANOPY